Jumat, 31 Oktober 2008
Field Note
Hari / Tanggal : Jumat / 31 Oktober 2008
Pukul : 10.00-11.00 WIB
Nama Subyek Penelitian : Mbak Tik
Usia : 25 Tahun
Alamat : Rungkut Harapan
Subyek / peristiwa :
Wawancara ketika subyek berada di rumah
Catatan
Mbak Tik adalah cucu dari Bapak M.Ali (M.Ali adalah ketua Kebangkitan Buruh Kesatuan Indonesia Surabaya). Ketika kami melakukan wawancara, kebetulan bapak Ali sedang pergi ke Solo sehingga kami hanya melakukan wawancara dengan mbak Tik.
“Saya ini cucunya mbak,,bapak Alinya sedang pergi keluar kota (solo), saya tidak tau kapan beliau datang”.
Ketika subyek diwawancara memang menyatakan adanya suatu kebenaran bahwa memang ada beberapa perwakilan buruh dari setiap perusahaan yang datang kepada bapak Ali untuk mendiskusikan berbagai masalah yang dialami buruh di tempat mereka bekerja.
“Memang benar mbak kadang-kadang banyak orang (buruh) datang kesini mencari bapak Ali untuk mengeluhkan masalah yang sedang mereka hadapi, rata-rata dari mereka masih muda,sepertinya mereka bekerja didaerah pabrik dekat daerah sini mbak, tapi saya kurang tau mereka bekerja dimana,,”.
Beberapa masalah yang biasa mereka hadapi yaitu misalnya mogok kerja buruh dikarenakan masalah upah, komunikasi yang bersifat top-down antara pengusaha dan majikan (dalam arti pengusaha mengabaikan keluhan dari buruh) dan upah menjadi tuntutan ekonomi yang harus diperjuangkan oleh buruh maupun organisasi buruh.
“setau saya keluhan mereka itu ya masalah pekerjaan, ada yang mogok kerja, karena upah yang didapat tidak sesuai dengan kebutuhan mereka, dari itu biasanya mereka mendiskusikannya dengan kakek saya (bapak Ali) tapi mengenai pembicaraan lengkapnya saya kurang tau pasti mbak”.
Apabila tuntutan upah yang layak tidak dapat dipenuhi oleh perusahaan, maka buruh harus rela mengurangi kebutuhan hidup mereka, sehingga dengan keadaan yang seperti itu mereka semakin terjepit terutama berkenaan dengan minimnya upah yang tidak sesuai dengan kebutuhan mereka apalagi mereka hidup dikota besar seperti Surabaya.
Pada prinsipnya buruh memenuhi kebutuhannya secara ekonomi dan praktis. Setiap buruh mempunyai pola konsumsi yang berbeda sehingga nantinya para buruh harus menyesuaikan pola konsumsi tersebut dengan upah yang diterima.
Adanya penyesuaian pola konsumsi tersebut menyebabkan kesejahteraan buruh berkurang. Akibat adanya penuntutan kesejahteraan itulah, para buruh melakukan adanya suatu gerakan yang memprotes kebijakan yang dilakukan oleh pemilik dimana mereka bekerja.
“para buruh itu datang kesini biasanya juga membicarakan masalahnya dengan sedikit emosi mbak,,tidak jarang kedengaran seperti sedang berdebat dengan kakek saya, karena kebetulan ruang kerja kakek saya dekat dengan ruang tamu”.
Senin, 20 Oktober 2008
Prop_Gersos
PROPOSAL PENELITIAN
GERAKAN SOSIAL
GERAKAN SOSIAL : ( STUDI KASUS GERAKAN BURUH PABRIK DALAM UPAYA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN HIDUPNYA
DI RUNGKUT-SURABAYA )

Disusun Oleh :
1.Hairatut Taqiyah ( 064564001 )
2.Aprillia Sakrawati ( 064564026 )
3.Raisa P.B Nadeak ( 064564015 )
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2008
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berbagai sektor menyokong perekonomian Indonesia, diantaranya: sektor agraris, industri, perdagangan, perbankan, permukiman dan perhotelan. Sektor-sektor tersebut mempunyai kontribusi masing-masing, termasuk sektor industri juga. Industri di Indonesia berkembang cukup pesat. Perkembangan industri yang cukup pesat menyebabkan industri sering terjadi konflik, yaitu antara pengusaha atau pemilik modal dengan buruh1. Konflik itu biasanya seperti tuntutan buruh mengenai Upah Minimum Kabupaten atau Kota (UMK) dan Upah Minimum Propinsi (UMP) pada setiap tahun.
Gejolak industri yang dipicu oleh pro-kontra UMK atau UMP terjadi di berbagai daerah dan kota-kota besar di Indonesia khususnya di Jawa. Unjuk rasa dilakukan buruh tidak hanya pada saat menuntut kenaikan UMK, tetapi juga saat merespon rencana pemerintah untuk merevisi Undang-Undang Nomor 13 tentang ketenagakerjaan yang isinya berpengaruh pada pengurangan hak pesangon PHK.
Reaksi buruh yang telah disebutkan di atas terjadi di beberapa daerah yang merupakan kantong-kantong buruh. Gerakan buruh terjadi di sejumlah daerah dalam rangka menuntut kenaikan UMK atau UMP tersebut telah melumpuhkan beberapa industri untuk sementara waktu. Aksi buruh tentang ketenagakerjaan tentunya tidak dapat dilakukan secara spontan. Dalam melakukan aksi tersebut, masing-masing organisasi tentunya mempunyai pandangan atau nilai-nilai yang dijadikan landasan dalam melakukan gerakan. Pandangan atau nilai-nilai itulah yang kemudian disebut dengan ideologi. Ideologi dalam gerakan buruh digunakan untuk membangkitkan kesadaran kelas para buruh.
Dalam beberapa momentum, buruh melakukan gerakan untuk memperjuangkan hak-haknya sehingga tidak jarang para buruh juga melakukan aliansi dalam gerakannya. Jika majikan atau pemilik modal tidak menyanggupi permintaan para buruh, biasanya para buruh akan melakukan mogok kerja.
Dalam penelitian Anam (1998), menjelaskan bahwa ada tiga faktor yang menyebabkan terjadinya mogok kerja di kalangan buruh2. Anam mengambil lokasi penelitian pada PT. Nusantara Prima Gresik sebagai studi kasus. Faktor-faktor mogok kerja buruh dikarenakan masalah upah, komunikasi yang bersifat top-down antara pengusaha dan majikan (dalam arti pengusaha mengabaikan keluhan dari buruh) dan keberadaan Unit Kerja SPSI di PT. Nusantara Prima Gresik yang kurang dapat menempatkan posisinya sebagai wakil buruh dikarenakan pengurus SPSI tidak murni diangkat oleh buruh melainkan masih ada campur tangan dari pengusaha.
Seperti yang telah dikatakan di atas, upah menjadi tuntutan ekonomi yang harus diperjuangkan oleh buruh maupun organisasi buruh. Apabila tuntutan upah yang layak tidak dapat dipenuhi oleh perusahaan, maka buruh harus rela mengurangi kebutuhan hidup mereka. Pada penelitian Septi (2005)3, pada prinsipnya buruh memenuhi kebutuhannya secara ekonomi dan praktis. Setiap buruh mempunyai pola konsumsi
yang berbeda sehingga nantinya para buruh harus menyesuaikan pola konsumsi tersebut dengan upah yang diterima. Adanya penyesuaian pola konsumsi tersebut menyebabkan kesejahteraan buruh berkurang. Akibat adanya penuntutan kesejahteraan itulah, para buruh melakukan adanya suatu gerakan yang memprotes kebijakan yang dilakukan oleh pemilik tempat mereka bekerja.
B. Rumusan Masalah
- Bagaimana upaya buruh pabrik dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya?
- Bagaimana solusi yang diperoleh para buruh dalam mengatasi kesejahteraan mereka yang rendah ?
C. Tujuan Penelitian
- Untuk mengetahui bagaimana upaya buruh pabrik dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
- Untuk mengetahui solusi apa yang diperoleh para buruh dalam mengatasi kesejahteraan hidupnya.
D. Manfaat Penelitian
Menambah pengalaman, pengetahuan dan wawasan tentang gerakan buruh dalam upaya memperbaiki kesejahteraan hidupnya yang terjadi dalam kehidupan masyarakat berkenaan dengan media yang digunakan serta dapat mempermudah memahami berbagai macam gerakan buruh yang ada di Indonesia.
BAB II
KAJIAN TEORI
Dalam sebuah gerakan, ideologi sangat diperlukan untuk memunculkan kesadaran kolektif. Ideologi mempunyai fungsi sebagai landasan perjuangan dalam suatu gerakan. Berikut akan dijelaskan ideologi gerakan buruh diantaranya melalui pemikiran Karl Marx. Karl Marx menjelaskan bahwa dalam sistem selalu terjadi ketegangan atau konflik, contohnya dalam sistem industri. Pada masyarakat industri (kapitalis), kelas terbagi menjadi dua yaitu kelas borjuis (pemilik modal) dan kelas proletar (buruh). Adanya pembagian kelas ini didasarkan oleh corak produksi (mode of production)4. Kelas borjuis sebagai pemilik modal dan alat produksi sedangkan kelas proletar sebagai kelas pekerja atau buruh.
Uraian kelas yang disampaikan oleh Marx hampir sama seperti yang disampaikan oleh Eric Wright, hanya saja Wright mengatakan ada tiga pembagian kelas. Erick Wright5 melihat struktur kelas masyarakat kapitalis industri terdiri dari kelas borjuasi (terdiri dari pemilik modal utama), kelas proletar (terdiri dari mereka yang tidak memiliki modal dan bekerja pada kelas kapitalis) dan kelas petty borjuasi (kelas ini beranggotakan para pengusaha kecil dan pengrajin yang tidak mempunyai karyawan, tidak mengeksploitasi tenaga kerja dan tidak mendominasi apapun dalam hierarki kewenangan).
Seluruh pemikiran Marx berdasarkan pada anggapan bahwa pelaku utama dalam masyarakat ialah kelas-kelas sosial6. Kelas dipahami sebagai kelompok sosial yang diorganisasikan oleh bentuk-bentuk kepemilikan modal. Sistem kepemilikan modal, mempengaruhi hubungan produksi. Kelas melatarbelakangi uraian Marx tentang hukum perkembangan sejarah tentang kapitalisme dan sosialisme. Teori kelas termuat secara implisit dalam semua teori Marx yang eksplisit. Secara implisit Marx menyebut bahwa semua masyarakat yang ada sampai sekarang ialah karena sejarah perjuangan kelas. Kelas sosial dianggap sebagai golongan sosial dalam tatanan masyarakat yang ditentukan oleh posisi tertentu dalam produksi.
Menurut Marx, pelaku-pelaku utama dalam perubahan sosial bukan individu-individu tertentu, melainkan kelas-kelas sosial. Yang harus diperhatikan ialah bukan hanya kelas seperti apa yang ditemukan, melainkan bagaimana struktur kekuasaan diantara mereka. Menurut Marx, akan terlihat bahwa dalam masyarakat terdapat kelas-kelas yang berkuasa dan kelas-kelas yang dikuasai. Kelas pemilik ialah kelas yang kuat sedangkan kelas pekerja ialah kelas yang lemah. Para pemilik dapat menetapkan syarat-syarat bagi mereka yang mau bekerja dan bukan sebaliknya. Kaum buruh terpaksa menerima upah dan syarat lainnya yang diberikan oleh pemilik, meskipun untuk mendapatkan pekerjaan itu ia telah berusaha mati-matian. Pada hubungan produksi, yang berkuasa ialah pemilik, sedangkan pihak yang dikuasai ialah pekerja. Buruh diberi pekerjaan bila ia bekerja untuk keuntungan pemilik. Pekerjaan yang melebihi waktu yang diperlukan buruh untuk memenuhi kebutuhan hidupnya merupakan keuntungan pemilik sehingga hubungan antara kelas atas dan kelas bawah pada hakikatnya ialah hubungan eksploitasi atau penghisapan7.
Kelas pemilik hidup dari penghisapan (eksploitasi) tenaga kerja buruh. Hubungan antara kelas atas dan kelas bawah merupakan hubungan kekuasaan antara satu berkuasa atas yang lainnya. Kekuasaan pada hakikatnya berdasarkan kemampuan majikan meniadakan kesempatan buruh untuk bekerja dan memperoleh nafkah dan menindas keinginan buruh untuk menguasai pekerjaan mereka sendiri.
Menurut Marx, setiap kelas sosial bertindak sesuai dengan kepentingan yang ditentukan oleh situasi objektif. Kelas majikan mengakumulasikan laba sebanyak-banyaknya karena dengan cara itulah mereka dapat bertahan hidup dalam persaingan pasar bebas, karena majikan menekan biaya tenaga kerja buruh sehingga menjadi lebih murah. Sebaliknya kelas buruh berkepentingan untuk mendapatkan upah sebanyak-banyaknya sehingga nantinya kelihatan bahwa secara objektif kepentingan dua kelas tersebut bertentangan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.Sifat Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata – kata tertulis atau lisan dari orang – orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh dan utuh mengenai bagaimana gerakan buruh itu terjadi dalam masyarakat, Sehingga dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan fenomenologi yakni peneliti berusaha memahami makana (interpretatif understanding) dari peristiwa atau fenomena yang terjadi dalam masyarakat dan suatu hal yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat serta untuk memahami apa dan bagaimana suatu peristiwa tersebut dapat timbul dan berkembang dalam kehidupan masyarakat sehari – hari.
Adapun tujuan pendekatan fenomenologi adalah untuk dapat menggambarkan perilaku – perilaku yang dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupannya. Dalam hal ini subjek ditempatkan sebagai individu yang bebas dan kreatif dalam mengkontruksi dunianya. Peneliti akan berusaha untuk masuk kedalam dunia konseptual para subjek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga dapat mengerti apa dan bagaimana suatu pengartian yang dikembangakan oleh para subjek disekitar peristiwa dalam kehidupan sehari – harinya.
B. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2008 di Rungkut-Surabaya. Alasan peneliti memilih lokasi tersebut karena letaknya cukup strategis dan dekat dengan jalan raya serta mudah dijangkau baik dari segi waktu maupun biaya sehingga peneliti tertarik untuk meneliti tentang ” Gerakan Buruh Pabrik Dalam Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Hidupnya di Rungkut-Surabaya “.
C. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah buruh pabrik didaerah Rungkut-Surabaya. Alasan peneliti mengambil daerah tersebut karena diasumsikan bisa menggambarkan gerakan buruh pabrik dalam hal meningkatkan kesejahteraan hidupnya berkenaan dengan usaha-usaha yang telah dilakukannya.
Subjek penelitian ini lebih ditujukan kepada pihak–pihak yang dianggap mempunyai pengetahuan dan pemahaman lebih mengenai pokok permasalahan yang diambil di daerah tersebut, Khususnya bagi mareka yang tercatat sebagai buruh yang bekerja di pabrik.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua cara yaitu data primer sdan data sekunder. Penggalian data primer menggunakan teknik participant observert dan in-dept interview. Tujuan menggunakan in-dept interview (wawancara mendalam)adalah untuk mendapatkan data yang diperlukan secara langsung dimana peneliti langsung dihadapkan pada lapangan. Langkah – langkah yang akan dilakukan oleh peneliti agar dapat melakukan teknik in-dept interview adalah dengan cara pendekatan dan mengakrabkan diri terhadap subjek penelitian.
Sebelum melakukan penelitian, Peneliti melakukan observasi terlebih dahulu disekitar lokasi penelitian melihat kondisi lingkungan baik fisik maupun non fisik misalnya keadaan sosial masyarakat setempat. Sedangkan data sekunder diperoleh dari monografi daerah tersebut dan foto – foto sebagai bahan dokumentasi serta data yang ditemukan dicatat kedalam field note (catatan lapangan).
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitia ini akan dilakukan dengan cara mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, dan mengkategorikan data yang telah diperoleh. Tujuan pokok penelitian ini adalah menjawab pertanyaan dengan menggunakanmetode wawancara mendalam (in-dept interview) sehingga dapat membedakan masyarakat yang akan diteliti.
Setelah data diperoleh kemudian melakukan reduksi data dengan cara membuat abstrksi kemudian dilakukan penafsiran data yang bertujuan untuk mendeskripsikan hasil data yang diperoleh dari lapangan berdasarkan kajian teori yang telah disusun sebelumnya.
Adapun tahap akhir dari analisis data ini adalah melakukan pemeriksaan keabsahan dan kevaliditasan data dengan cara diskusi dengan teman, kakak angkatan atau bahkan orang yang dianggap mempunyai pemahaman dan pengetahuan lebih berkenaan dengan pokok permasalahan yang diambil dari penelitian yang telah dilakukan guna mendapatkan data yang tepat, akurat dan mudah untuk dipahami.
DAFTAR PUSTAKA
Anam, Miftahul, 1998. Faktor-faktor yang menyebabkan Aksi Mogok Kerja dan Peranan Unit Kerja SPSI dalam Memperjuangkan Aspirasi Buruh. Skripsi. FISIP UNAIR.
Septi, Fatimah. 2005. Pola konsumsi Buruh Pabrik Migran Pria : Studi Deskiptif mengenai Buruh Pabrik Pria di Kawasan Industri SIER. Skripsi. FIS UNESA.
Franz Magnis Suseno. 1999. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revionis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Halaman 11.
Doyle Paul Johnson. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: Gramedia. Jilid I. Halaman 155.
1 “Buruh” dan “pekerja”dipakai oleh organisasi yang berbeda. Istilah “pekerja” digunakan oleh Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) yang berdiri pada era Soeharto. Kata “buruh” digunakan oleh organisasi yang berusaha melawan dominasi SPSI. Pemilihan kata “buruh” dianggap lebih bisa mewakili organisasi yang ada.
2 Anam, Miftahul. 1998. Faktor-faktor yang menyebabkan Aksi Mogok Kerja dan Peranan Unit Kerja SPSI dalam Memperjuangkan Aspirasi Buruh. Skripsi. FISIP UNAIR.
3 Septi, Fatimah. 2005. Pola konsumsi Buruh Pabrik Migran Pria : Studi Deskiptif mengenai Buruh Pabrik Pria di Kawasan Industri SIER. Skripsi. FIS UNESA.
4 Franz Magnis Suseno. 1999. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revionis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Halaman 11
6 Franz Magnis Suseno. Loc.Cit.
7 Doyle Paul Johnson. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: Gramedia. Jilid I. Halaman 155.